Omset Pedagang Pasar Ranai Menurun Sampai 40 Persen

NATUNA – Bencana Kesehatan Covid 19 yang melanda Indonesia,tentu akan berdampak sektor ekonomi dan sosial.  Berbagai kebijakan dan himbauan Pemerintah guna memutuskan tali penyeberan covid 19, seperti dilarang berkerumunan, selalu menjaga jarak dan dirumah saja. Kebijakan ini telah berdampak pada sektor ekonomi masyarakat Natuna, hal ini disampai Ketua Komisi II DPRD Natuna Marzuki (23/04/2020).

Covid-19 berdampak pada ekonomi Nasional, Khususnya Natuna. Perputaran ekonomi bisa kita lihat dari lajunya transaksi dipasar atau di toko-toko. Dari sidak yang kami lakukan di pasar Ranai guna memantau kebutuhan pokok dan untuk mengetahui daya beli masyarakat, ternyata penurunan omset penjualan mencapai 30 hingga 40 persen, baik itu pedagang sayuran, pedang ikan maupun ayam potong, terang Merzuki.

Penurunan daya beli tentu akan berimbas kepada menurunnya pendapatan petani dan nelayan.
Sampai hari ini nelayan tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Namun pendapatannya menjadi menurun, biasa harga ikan tongkol ditingkat penampung mencapai Rp 20.000,- perkilo gram, kini tinggal Rp. 12.000,- perkilogram, itupun harus menjajakan ikan ke rumah rumah warga untuk melakukan ikannya.

Persoaalan bagi nelayan, apabila hasil tangkapannya banyak masih dapat juga penghasilan, walau tidak sesuai dengan jerih payahnya melaut. Jika tidak dapat ikan dalam jumlah banyak terus-menerus, tentu nelayan akan merugi dan terus merugi, terang Marzuki.

Dilema memang, kondisi ekonomi Natuna pun terdampak dari pandemi corona, semua sektor ekonomi sulit bergerak. Pasar diluar Natuna juga menurun, sehingga pedagang ikan yang biasa menjual keluar daerah sulit untuk memasarkan ikannya. Jika ini berlangsung lama tidak tertutup kemungkinan tidak ada lagi yang mampu melaut, keluh Marzuki

Untuk mengatasi dampak terburuk dan tidak terajdi kelangkaan ikan dan sayuran perlu kiranya pemerintah memberi solusi untuk kita semua. Seperti memberi subsidi BBM kepada nelayan dan subsidi pupuk kepada petani. Kenapa ini harus dipikirkan, jika nelayan dan petani terus-terus merugi, tentu para nelayan tidak akan sangup melaut dalam keadaan rugi, tutup Marzuki.

Salah satu nelayan Batubi  saat dijumpai media ini, “ hari-hari ngelaut (berangkat sore balik pagi), penghasilan Rp. 500.000 setiap ngelaut, namun sejak adanya wabah corona ini pendapatan paling tinggi Rp. 200.000,-, manalagi untuk beli umpan dan BBM”, keluhnya.

Poto pedagang sayuran Ranai terus berjualan walau omset Menurun hingga 40 persen.***

Keluhan juga terucap olah pedangang sayuran di Pasar Ranai, sebut aja Ipah (24/04/2020) kepada media ini, “ sejak adanya wabah corona melanda Indonesia penjualan kami turun sampai 40 persen, namun kami tetap berjualan”.
Beda halnya dengan lapak ikan, banyak lapak yang tutup, namun tidak tau pasti penyebab mereka tutup. Dari pantauan kepripos.co.id, pengunjungnya cukup sepi.

Pedangan kue keluhkan dagangannya banyak tersisa.

Sore harinya media ini mengunjungi lapak kue mue buka puasa, tutur seorang pedang kue yang hari harinya memang berjualan kue, “tahun ini penjualan kami menurun, namun kita harus menerima keadaan, rizki kita memang harus seperti ini dulu”.
Lapak kue dadakan dibuka di mana-mana dan rata-rata sepi pembeli, sementara yang dijajakan kue basah. Tentu untuk berjualan esoknya tentu perlu modal lagi. **(red)

Sharing