6.000 Nelayan Bintan Sudah Memiliki Asuransi Nelayan

BINTAN – Kepala Dinas Perikanan Bintan Fachrimsyah menuturkan bahwa Program Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) atau biasa disebut dengan Kartu Asuransi Nelayan masih terus berjalan. Hal tersebut sesuai dengan petunjuk teknis dari Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP) RI selaku Kuasa Pengguna Anggaran yang teralokasi dalam APBN, terdapat beberapa kriteria kepesertaan dan syarat kepesertaan nelayan untuk bisa diberikan bantuan premi asuransi.

“Program itu sudah sejak lama digulirkan dan hingga saat ini program tersebut masih berjalan. Kurun waktu 4 tahun berjalan sudah sekitar 50% lebih nelayan atau sekitar 6.000 yang sudah ter-cover program tersebut. Dan sudah disalurkan santunan senilai 824 juta rupiah untuk 8 nelayan”, ujarnya, Selasa (29/9) siang.

Menurutnya untuk kriteria nelayan akan diprioritaskan bagi nelayan kecil dan juga nelayan tradisional dengan syarat memiliki kepesertaan Kartu Nelayan dan berusia setidaknya maksimal 65 tahun. Kriteria lainnya, yakni tidak pernah mendapatkan bantuan asuransi lainnya, serta tidak memiliki dan memanfaatkan alat tangkap yang dilarang oleh Peraturan Pemerintah.

Foto Dok.  Apri Sujadi Sebelum Cuti.

Realisasi hingga per Desember 2019, sudah sekitar 6.000 lebih Nelayan di Kabupaten Bintan yang sudah terproteksi Asuransi Nelayan dari 11.000 nelayan tangkap, untuk tahun 2020, namun program tersebut terhenti dari pusat karena Covid 19.

Selain itu “Program yang memiliki beberapa kriteria hingga kini masih terus dilakukan usulan proteksinya. Menggingat nelayan tangkap asli Bintan sekitar 11.000 ditambah buruh Perikanan secara keseluruhan bisa mencapai sekitar 15.000. Tapi rata2 buruh nelayan bukan warga bintan ” tegasnya.

Dikatakannya juga bahwa besaran variasi nilai manfaat per nelayan berupa, santunan kecelakaan akibat aktivitas penangkapan ikan sebesar Rp 200 juta (apabila meninggal dunia), Rp 100 juta (apabila menyebabkan cacat tetap) dan Rp 20 juta (untuk biaya pengobatan).

Bahkan, tak hanya saat melakukan aktivitas penangkapan ikan, nilai manfaat asuransi juga mencakup kecelakaan di luar itu. Adapun untuk cangkupan asuransi diluar aktivitas penangkapan ikan mencapai besaran nilai santunan dengan krikeria, Per orang mendapatkan santunan Rp 160 juta (apabila meninggal dunia), Rp 100 juta (apabila mengalami cacat tetap) dan Rp 20 juta (untuk biaya pengobatan).**

Laporan: Siswanto

Sharing