Geopark Nasional Natuna Tertunda Didaftarkan di UNESCO Gelobal Geopark

Natuna– Ditahun 2021 ini geopark Nasional Natuna tertunda didaftarnya ke UNESCO Gelobal Geopark (UGGp), dikarenakan masih perlu dipenuhi sarana prasana pendukung sebuah geopark, disampaikan Ketua I Badan Geopark Nasional Natuna Hardinansyah melalui telpon, 04/08/2021.

Lanjut Aan, dalam upaya mengembangkan geopark yang berkualitas sesuai dengan sasaran agenda pembangunan dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024 yaitu 12 destinasi wisata Global Geopark, Pada 12 – 15 Juli 2021, telah dilaksanakan rangkaian rapat koordinasi Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) melalui video conference dan telah melakukan penilaian secara terbuka terhadap 11 (sebelas) Badan Pengelola Geopark Nasional, yaitu: a. Geopark Merangin; g . Geopark Ngaraisianok- Maninjau; b. Geopark Karangsambung-Karangbolong; h . Geopark Sawahlunto; c. Geopark Pegunungan Meratus; i . Geopark Tambora; d. Geopark Natuna; j . Geopark Raja Ampat; dan e. Geopark Pongkor; k . Geopark Bojonegoro; f. Geopark Ranah Minang Silokek.

Pada 12–14 Juli 2021, telah dilaksanakan rapat teknis seleksi calon Aspiring UGGp 2021 yang dipimpin oleh Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan. Dalam hal ini, kriteria dan pembobotan penilaian seleksi calon Aspiring UGGp 2021 mengacu pada formulir self evaluation dari UNESCO (application process for aUGGp) dan Pasal 12 Perpres No. 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark); iv. berdasarkan dokumen yang telah disampaikan dan pendalaman melalui presentasi yang telah dilakukan oleh masing-masing kandidat.

Tim Teknis KNGI yang terdiri dari Perwakilan K/L terkait dan para pakar telah melakukan penilaian dan mendapatkan tiga GN dengan nilai tertinggi, yakni Geopark Nasional Raja Ampat, Geopark Nasional Merangin dan Gepoark Nasional Karangsambung-Karangbolong.

Masih Aan, tidak diikut sertakan Natuna untuk didaftarkan di UGG, karna ada beberapah hal yang belum terpenuhi dalam sebuah bingkai kolaborasi geopark. Diatranya atraksi, aksesibilitas, amenitas dan ancilliary (organisasi/lembaga yang mengatur/mengelolanya). Ini menjadi penting karena walaupun destinasi sudah mempunyai atraksi, aksesibilitas dan amenitas yang baik, tapi jika tidak ada yang mengatur dan mengurus maka ke depannya pasti akan terbengkalai.

Organisasi sebuah destinasi akan melakukan tugasnya seperti sebuah perusahaan, sehingga bisa memberikan keuntungan kepada pihak terkait seperti pemerintah, masyarakat sekitar, wisatawan, lingkungan dan para stakeholder lainnya. Oleh karenanya perlu didudukkan bersama untuk menjawab persyaratan untuk didaftarkan di UGGp, tutup Aan.

Kabupaten Belitung dengan geopark Belitongnya sudah mampu menyumbang APBD 200 milayar pertahun dari bidang pariwisata ( sebelum covid-red). Stady tirupun sudah dilakukan,tidak ada suatu yang mewah digeosite-geositenya, namun mereka sudah memiliki inprastruktur setandar minal, yaitu tempat parkir, Musolla dan toiler, serta sekretariat pengelola.*

Laporan: Aulia

Sharing