32 Hektar Lahan Pulau Rano Diserobot

Batam (Kepripos.co.id)-
Pemilik 2 hektar lahan garapan kebun, Joyah Nurdin, kecewa berat. Pasalnya status lahan miliknya yang berada di Rt2/Rw2 Pulau Rano telah beralih kepemilikan secara ilegal.

Lahan kebun itu kini telah beralih fungsi menjadi tempat wisata tanpa izin. Padahal, sesuai pengesahan dokumen kepemilikan lahan itu atas nama dirinya yang dikeluarkan pada 12 April 1992 disaksikan Rt dan Rw. Di dokumen itu juga tertera jelas ditandatangani oleh camat Galang, Drs Yusrizal serta Kepala Desa, Syamsudin.

“Sedang kita telusuri siapa saja pihak yang terlibat dalam memanipulasi dokumen lahan sehingga beralih kepemilikan,” tegas Andi Jasrudin, selaku Ketua Umum Hinterland Center kepada Kepripos.co.id.

Ia juga mengungkap, selain 2 hektar lahan tersebut, Hinterland Centre juga kembali mendapat pengaduan lainya di pulau Rano. Seluas 30 hektar lahan juga telah berubah fungsi.

“Kasusnya sama. Ada peralihan dokumen kepemilikan lahan secara ilegal. Jadi totalnya ada 32 hektar lahan garapan kebun milik warga yang beralih kepemilikan secara ilegal,” terang Andi.

Ditegaskanya, sebagai anak bangsa yang cinta negeri ini ia tidak menerima jika pulau Rano yang akan disulap menjadi destinasi wisata itu kepemilikannya dikuasai oleh negara asing.

“Kita diberi kuasa oleh para pemilik lahan untuk menyelesaikan persoalan ini. Ini sama halnya dengan penyerobotan lahan. Hinterland Centre sedang menyelidiki apakah pulau Rano itu sudah dijual kepada pihak asing. Jika terbukti akan kita gugat sampai ke ranah hukum,” tutup Andi.

Kabar Pulau Rano dikelola pihak asing kini telah menjadi perhatian publik, khususnya para aktivis di kota Batam.

Salah seorang pemerhati kebijakan pemerintah, Jerry M Makassau, meminta agar kepala daerah memperhatikan betul pulau pulau terluar.

“Walikota Batam harus peduli dengan keberadaan Pulau-pulau terluar,” katanya mengingatkan.

Menurut, Jerry, mengenai kebijakan strategis lazimnya dikuasai sepenuhnya oleh negara, bukan untuk kepentingan pribadi, pengusaha dan oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan pulau terpencil. Jangan sampai dimasa yang akan datang ada konflik maupun gugat menggugat sehingga mengusik kedamaian warga masyarakat kota ini.***(andre)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *