Kalau Jadi Kepala Daerah Harus Iklas

Masyarakat jangan menganggap remeh atas pilihan politiknya ketika masuk ke bilik suara. Sebab akan mempengaruhi daerah secara keseluruhan dalam rentang lima tahun kedepan.

Tanjungpinang, (KepriPos.co.id)
SEBENTAR lagi pesta Demokrasi akan dimulai di Kota Tanjungpinang melalui Pilwako 2018. Sikap pesimis akan adanya perubahan di ajang lima tahunan ini tidak melulu hanya sekedar memenuhi azas formalitas yang kering nilai, miskin visi yang dengannya peluang untuk menemukan dan melahirkan sosok pemimpin yang hakiki, menjadi hilang.
Nasib daerah secara keseluruhannya ada ditangan pemimpinnya. Harapan masyarakat ketika memilih calon pemimpinnya selalu kandas seiring berkahirnya masa jabatan. Adakah harapan itu lagi?

Mungkin Tokoh yang satu ini bisa memberi jawaban kepada kita semua. H.Andi Anhar Chalid kelahiran Tanjungpnang, 3 Februari 1955 ini pernah menjadi Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Riau ( saat ini Bintan-red), sekaligus sebagai Ketua DPRD periode 2001 – 2004. Lalu, sebagai Anggota DPRD Provinsi Kepri periode 2004 – 2009. Lemhanas angkatan 2001.

Berikut hasil wawancara Majalah Kepri Pos dengan Andi Anhar Chalid beberapa waktu yang lalu.
Sikap pesimis masyarakat akan adanya perubahan dalam pergantian Kepala Daerah di ajang lima tahunan ini. Menurut Anda apa penyebabnya?

Pertama Calon Kepala daerah harus Memiliki Visi dan Misi. Sebab, fondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah memikirkan visi dan misi organisasi, mendefinisikannya dan menegakkannya secara jelas dan nyata.

Visi adalah keinginan pemimpin yang bersifat ideal yang dirumuskan secara saksama dan menentukan arah atau keadaan masa depan. Visi merupakan titik awal permulaan .

Misi adalah perwujudan dari keinginan pemimpin. Misi menggambarkan perjalanan dari titik berangkat sebagai keadaan awal ke arah titik pencapaian.

Nah, tingkat keberhasilan sebauh Visi dan Misi tergantung dari Tim Kerja lingkaran dalam. Makanya ketika dilantik sebagai Kepala Daerah harus bisa mengenal, mengolah dan merekrut menjadi tim kerja karena itu vital dan menentukan. Ini juga menyangkut potensi seorang pemimpin yang ditentukan oleh orang-orang yang paling dekat dengannya

Jadi menurut Anda Tim Kerja menentukan kesuksesan dalam meralisasikan Visi dan Misi saat Kampanye?
Begini. Tidak ada pemimpin jika anda sendirian, berarti anda tidak sedang memimpin orang lain.Terlalu sedikit pemimpin yang memikirkan hal ini secara ideal. Nilai langgeng seorang pemimpin adalah diukur dari suksesinya. Ini perlu dipikirkan oleh para pemimpin yang ingin kepemimpinannya benar-benar memiliki makna.

Makanya Masyarakat jangan menganggap remeh atas pilihan politiknya ketika masuk ke bilih suara. Sebab akan mempengaruhi daerah secara keseluruhan dalam rentang lima tahun kedepan.

Apa Indikator calon pemimpin yang hanya menebar janji?
Saat ini Masyarakat sudah krisis kepercayaan.Rakyat tidak butuh lagi saat kampanye paling banyak berjanji, paling banyak menebar slogan melalui poster dan gambar yang dipaku di pepohonan. Yang dibutuhkan pemimpin yang mampu merubah kondisi ekonomi rakyat membaik dan membuat asap mengepul di dapur rakyatnya.

Tidak ada toleransi bagi calon kepala daerah yang hanya mencoba peruntungan. Juga tidak boleh ada toleransi bagi praktek kapitalisasi pilihan politik. Lahirnya pemimpin dengan kualifikasi yang amanah dan berkinerja baik adalah tanggung jawab semua pihak bukan hanya partai politik saja. Dan yang paling penting kalau jadi Kepala Daerah bekerja harus iklas.

Apakah masih ada kriteria pemimpin/calan kepala daerah yang visinya mampu menghimpun energi daerah untuk bergerak secara bersama, melangkah maju?

Tergantung masyarakatnya. Mereka yang menentukan pilihan. Meski pemimpin dengan kategori ini terlalu ideal dan sulit untuk ditemukan di tengah-tengah hiruk pikuk praktek politik yang transaksional, tetapi jika masyarakat Cerdas dalam menentukan pilihan bisa melahirkan orang pemimpin yang berkualitas. Kondisi saat ini ada krisis kepercayaan masyarakat kepada Agenda pemilihan Kepala Daerah.

Meski demikian, proses ini tetap harus menjadi media untuk melahirkan pemimpin dan bukan penguasa, karena inilah cara yang paling konstitusional dan demokratis yang dapat ditempuh untuk menentukan masa depan daerah. Juga karena antara pemimpin dan penguasa jelas berbeda.**(red)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *