Mengandalkan Kecerdasan dan Kekuasaan Sebuah Keniscayaan

Opini Redaksi***

Pemilihan Walikota Tanjungpinang dan Wakilnya sudah diambang pintu. Sekitar 4 Bulan lagi dimulainya pendaftaran sesuai tahapan atau tahapan pencalonan akan dilaksanakan pada Bulan Januari 2018. Namun suasana masih biasa-biasa saja.

Artinya, belum ada satupun calon kandidat yang menunjukan keseriusannya maju mencalonkan diri sebagai Walikota Tanjungpinang. Kecuali figur lama seperti Lis Darmansyah dan Syahrul.

Kota Tanjungpinang sebagai ibukota Provinsi sudah selayaknya mendapatkan pemimpin yang dapat diandalkan. Tidak cukup ilmu komunikasi politik sebagaimana komunikasi adalah senjata terbaik pemimpin. Pemimpin yang andal selalu menggunakan kekuatan komunikasi untuk memberdayakan orang lain. Pemimpin yang andal selalu mendengarkan dengan cerdas, bertanya dengan kreatif dan berbicara dengan bijak.

Keterampilan berkomunikasi tidaklah terfokus pada keterampilan berbicara, keterampilan mendengar sangatlah penting. Keterampilan untuk mendengarkan orang lain membuat pemimpin semakin banyak menyerap informasi dan pengetahuan dari dunia nyata. Pemimpin yang cerdas lebih suka mendengarkan, baru berbicara saat dia merasa perlu berbicara. Pemimpin yang cerdas selalu mengirim pesan pada saat pesan itu dibutuhkan oleh orang lain. Dia selalu lebih banyak mendengarkan saat orang-orang tidak butuh pesan dan informasi darinya. Dia berubah menjadi orator yang hebat saat orang-orang butuh motivasi dan pencerahan.

Nah, merindukan pemimpin yang cerdas pasti mudah didapat. Ada banyak pemimpin yang memiliki tipikal smart kota ini. Itu bisa ditunjukkan dengan gelarnya yang lebih panjang daripada namanya. Orang memiliki banyak gelar pasti orang cerdas. Radius pengetahuan di bidangnya sangat luas. Meskipun kenyataan pemimpin yang memiliki gelar masih dalam tanda petik, karena di negeri ini juga ada lembaga yang masih jual beli gelar.

Mendambakan pemimpin yang bijak tidak mudah. Dari seribu calon pemimpin mungkin hanya ada satu yang bijak. Pemimpin yang cerdas belum tentu bijaksana. Tetapi pemimpin yang bijaksana pasti pemimpin yang cerdas. Pemimpin yang cerdas banyak, tetapi pemimpin yang bijak sedikit. Itu sulitnya mencari figur pemimpin sejati! Sejauh yang bisa kita lakukan mencari atau memilih figur yang mendekati tipe pemimpin yang bijaksana.

Nampak kita kekurang calon pemimpin yang memenuhi kriteria yang layak. Hanya himbaun kepada pemilih untuk menggunakan kecerdasan yang dimiliki untuk memilih calon pemimpin cerdas yang mungkin dapat mewujudkan harapan.***

Penulis (Muslim Matondang/Pemp.Redaksi KepriPos.co.id)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *