MINYAK DUNIA MENURUN PERUSAHAAN MIGAS HAMPIR KOLEP

Natuna, (Kepripos.co.id)-

Wakil Bupati Natuna meminta kepada kontraktor migas dapat melakukan industri migasnya di Natuna, pemerintah sudah menyiapkan lahan seluas 1.300 hektar di Teluk Buton, hal ini disampaikan kepada acara kunjungan kerja SKK Migas dan KKKS di ruang rapat I Bupati Bukit Arai, 05/09/2018.

Hadir pada acara tersebut, ketua DPRD Natuna Yusrinpandi, Asisten I dan II, FKPD, OPD, Kabag, Imigrasi, dan Bakamla. Semenatara dari SKK Migas Sumatera Bagian Utara ( Sumbagut, red) Kepala Departemen Humas Haryanto Syafri, Staf komunikasi SKK migas Pusat Rizka Wafira.

Sementera dari kontaktor Migas, diantaranya Premieir Oil diwakili oleh Community Investment Manager Awalus Sadeq, Medco diwakili oleh Community Investment Manager Ineke Sundari, kemudian Head Section Government relation Star Energi Susanto Kusnadi.

Wakil Bupati Natuna, Hj. Ngesti Yuni Suprapti menyampaikan kepada SKK – KKKS Migas, Natuna telah menyiapkan 1.300 hektar lahan di Tuluk Buton, oleh karenanya kami ( pemerintah, red ) pihak kontraktor migas yang melakukan ekploitasi di Laut Natuna bisa melakukan industry migasnya di pulau Natuna, karnena kebaradaannya berdampak ekonomi dan peluang kerja bagi masyarakat Natuna.

Kemudian dari ketua DPRD Natuna Yusripandi mempertanyakan dampak negatip dari eksploitasi yang berikabat rongga bebatuan menjadi kosong dikarenakan minyaknya sudah diambil.

Dari dua persoalan tersebu, kepala Departemen Humas SKK Migas Sumbagut Haryanto Syafri menjelaskan, untuk kegiatan industry migas di daratan seperti mobilisasi keru, tentu memperhitungkan jarak tempuh dari darat ke lokasi drilling ( pengobaran ), kesemua itu akan dikaji dari sisi ekonomis, jika lebih dekat dari Palmatak tidak menutup kemungkinan dilakukan di Natuna, namun tidak bisa dijanjikan, karna perlu pengkajian lebih lanjut.

Sementara untuk dampak negerativ yang dipertanyakan oleh ketua DPRD Yusripandi, Haryanto memberikan keterangan bahwa kegitan eksploitasi tidak akan berdampak negative bagi alam, karena minyak berada di pori pori batu di dalam bumi, jika minyaknya diambil tidak akan merusaknya bebatuan tersebut. Sebagi contoh, sepon berisi air jika diperas maka volume dan bentuk spon tetap seperti semula, dari perumpaan tersebut maka pengobaran tidak ada pengaruh negative dengan alam.

Dikesempatan yang sama PT Medco yang diwakili Community Investment Manager Ineke Sundari menyampaikan, Medco merupakan kontraktor lanjutan dari Conoco, termasuk melanjutkan kegiatan yang sudah dilakukan oleh Conoco.

Kemudian untuk kegiatan baru Medco sedang melaku Survai sismik tiga dimensi ( 3D ) yang berjarak 43 km dari Subi. Sistem 3D akan memberi data lapisan bumi guna memudahkan untuk pengeboran nantinya, sehingga kemungkinan gagal dalam pengobaran lebih kecil, terang Ineke.

Sementara pihak Star energy yang disampaikan oleh Head Section Government relation Susanto Kusnadi, Star Energi Masuk ke Kakap Natuna pada tahun 2003 yang beroperasi di laut Natuna Bagian Utara, namun pada tahun 2014, guna menghindari kekolepan Star Energi sempat memberhentikan karyawan sebanyak 140 orang yang disebabkan harga minyak dunia turun dari 114 US dolar perbarel menjadi 30-40 US dolar per barel, namun hari ini harha minyak sudah naik kembali menjadi 60-70 US dolar per barel.

Kemudian pada tahun 2015 dan 2016 Star Energi menumukan dua semur baru yaitu Kuda laut dan Singa Laut, namun pihaknya perlu menambahkan minimal satu sumur lagi agar lebih bernilai ekonomis dan masa produksi yang panjang, tutup Susanto.

Bukan ayam saja mati dilumbung padi, juga pekerja migas mati dulumbung migas karena perusahaan migas mengurangi tenaga kerjanya guna sebuah epesiensi yang disebabkan harga minyak dunia melemah. Namun CSR migas tetap berjalan walau harus berbagi bukan saja di kabupaten penghasil ( Natuna, red ), provinsi juga mengajukan CSR, tutup Haryanto.***

Laporan: Fadil

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *