Pemilik 720 Koli Barang Prapradilkan Polairud dan Bea Cukai Batam

Batam (Kepripos.co.id)-

Pengadilan Negeri kota Batam membuka sidang perdana praperadilan dengan pemohon, Yohanes Joko Suwarno, selaku pemilik 720 koli barang melawan termohon satu, Polairud Polda Kepri dan termohon dua, Kantor Pelayanan dan Pratama Bea Cukai Tipe A khusus Batam, Rabu (21/3/2018).

Pada sidang perdana ini, pemohon yang dikuasakan kepada kantor bantuan hukum, Agus & Fatners, memperkarakan atas penyitaan barang dilakukan termohon satu. Dan hingga saat ini ratusan koli barang itu telah diserah terimakan dalam penguasaan termohon dua.

Sidang praperadilan yang dipimpin oleh hakim tunggal, Taufik SH , ini menyedot perhatian publik diruang sidang. Pasalnya, dua orang saksi yang dihadirkan pihak pemohon dinilai memberi keterangan berbelit dan tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

Kepada hakim, saksi satu, Yudo Imanbintoto, mengatakan bahwa adanya transaksi jual beli 720 koli barang hotel berawal dari adanya informasi iklan internet disalah satu situs jual beli Buka Lapak.

Lalu, saksi satu memposisikan dirinya sebagai agen atau makelar jual beli 720 koli barang tersebut. Atas jasanya itu, ia mendapat upah fee 10 persen dari nila jual barang.

Saat sidang berlangsung, beberapa kali hakim mendesak agar saksi satu berkata jujur dalam proses persidangan ini. Saksi dinilai selalu memberi keterangan berbelit, tidak sesuai antara keterangan fakta dan banyak lupa saat ditanya.

Akhirnya hakim berhasil membuka kedok saksi satu sehinga terungkap, bahwa 720 koli barang hotel yang dibeli pemohon itu berasal dari importir Batamindo 3.

Barang seharga Rp 350 juta itu diageni saksi satu kepada pemohon seharga Rp 400 juta. Artinya, selain mendapat keuntungan dari selisih harga, saksi satu juga mendapat fee 10 persen dari transaksi jual beli kedua belah pihak itu.

Saksi mengaku tidak terlibat langsung atas transaksi pembayaran barang tersebut. Ia hanya mempertemukan antara penjual dan pembeli. Sedangkan barang yang diamankan pihak termohon satu diketahui dirinya saat peristiwa itu tayang disalah satu televisi swasta.

Singkat cerita, setelah transaksi jual beli kedua belah pihak selesai, 720 koli barang hotel berbagi jenis itu selanjutnya di angkut ke desa Cunting Kecamatan Sembulang.

Ratusan koli barang tersebut lalu dipercayakan pemohon kepada seorang warga setempat yaitu Mustar, disebut sebagai saksi dua di persidangan PN Batam.

Pemohon memberi Rp 4 juta kepada saksi dua sebagai biaya sewa lahan miliknya untuk penyimpanan ratusan barang itu. Namun pada fakta persidangan, saksi dua ternyata memakai lahan milik orang lain untuk menyimpan ratusan koli barang yang diangkut oleh 8 mobil truk. Belakangan lahan itu diketahui milik Farida.

Dalam keterangan saksi dua ini, hakim juga selalu memberi peringatan. Saksi dinilai berbelit dan memberi keterangan yang tidak sesuai dengan fakta.

Diantaranya, saksi dua beralasan barang yang ditimbun dilahan milik Farida itu hanya untuk sementara, menunggu pembuatan gudang dilahan miliknya.

Ia juga menegaskan, dipesisir pantai desanya itu tidak ada pelabuhan tikus. Selain itu, ia mengaku bertemu dua anggota aparat saat ratusan barang itu disambangi untuk diperiksa petugas.

Adanya keterangan saksi dua ini, sebahagian besar dibantah oleh pengakuan, M.Nur, salah seorang dari lima saksi yang dihadirkan Polairud Polda Kepri.

Kepada hakim, saksi M.Nur, mengaku didesanya itu ada pelabuhan tikus. Bahkan, dirinyalah yang melangsir ratusan koli barang itu menggunakan boat pancung. Barang itu diangkut dari darat dan di muat ke kapal tongkang yang sudah siaga di tengah laut.

M.Nur juga mengatakan, dalam transfer barang itu dibantu oleh dua orang anak muda.

Ia juga mengaku tidak mengetahui asal usul ratusan koli barang, juga tidak mengetahui akan dibawa kemana ratusan koli barang yang menggunakan tongkang ini.

“Saya tidak tahu pak hakim. Saya hanya melangsir barang itu ke tongkang saja atas perintah Yohanes (Pemohon). Hanya itu tugas saya,” imbuh M.Nur. Ia juga mengaku telah melakukan pengakutan hal serupa sebanyak tiga kali.

Sedangkan saksi Polairud, Briptu Nainggolan dan Pasaribu, membantah bertemu dengan saksi dua saat mendatangi lokasi timbunan barang. Selain itu, saksi juga membantah melakukan penyitaan terhadap ratusan koli barang itu.

“Kami tidak menyita yang mulia, kami hanya mengamankan. Barang barang itu disemak semak dan tidak bertuan saat kami mendatangi lokasi. Jadi ini barang temuan,” ujar saksi Nainggolan.

Saksi juga menceritakan, timnya turun ke TKP atas perintah pimpinan yang sebelumnya mendaparkan laporan masyarakat.

Saat itu sekitar 20-21 januari 2018 pukul 16 tim bergerak kelokasi dan tiba pukul 18. Dalam situasi menjelang magrib, tim melihat adanya kapal pancung ketengah laut menuju ke sebuah tongkang.

Lalu tim melakukan pengintaian asal usul barang dan terendus, ratusan koli barang itu berada didalam semak semak. Tidak ada yang menjaga barang itu, bahkan Ketua RT setempat dan warga mengaku tidak mengetahui siapa pemilik barang tak bertuan itu.

Akhirnya, tim Polairud Polda Kepri melakukan pemeriksaan barang, dan tidak ditemukan barang berbahaya. Karena masalah kepabeanan bukan ranah Kepolisian, lalu ratusan barang tak bertuan itu diserahkan ke Bea Cukai selaku pihak berwenang atas barang.

Sidang akan dilanjutan pada, Jumat 23 Maret, untuk mendengarkan putusan hakim.

Sementara itu, pada sekitar 20 Januari lalu, Polairud mengamankan ratusan koli barang di salah satu desa Kecamatan Sembulang. Barang rekondisi import asal Singapura tersebut diduga akan diselundupkan ke luar daerah kepabeanan pulau Batam. Namun rencana penyelundupan itu di gagalkan tim Polairud Polda Kepri.***
*( Lapora: andre)*

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *