Situs Bukit Kerang Masih Misteri?

Bintan, (Kepripos).-
Bukit Kerang di daerah Kawal-Bintan yang selama ini dikenal dengan sebutan Benteng Pertanahan Batak, dimana lokasi Bala Tentara dari Sumatera Utara (nama sekarang red) sebagai bala bantuan yang sengaja di undang atau diminta oleh penguasa daerah Bintan (melayu -red) saat itu untuk melawan serang dari Bajak Laut menuju daratan Bintan.

Ini versi cerita yang pernah didengar.
Berbagai versi cerita sempat bermunculan, namun setelah dilakukan penelitian bahwa Bukit Kerang adalah bukit yang tinggi dan berbentuk seperti kerang, berupa tumpukan cangkang kerang yang sangat banyak dengan tinggi sekitar 12 meter dengan diameter dengan ukurang yang hampir sama. Menurut LIPI situs prasejarah seperti ini jarang ditemukan, di Indonesia hanya ada tiga yaitu di Aceh Tamiang, di Guar Kepah Sumatera Utara, dan di Kawal Darat Bintan.

Menurut ceritanya, dulu manusia purba pernah hidup di pulau Bintan. Ini dapat dilihat adanya gundungan bekas sisa makanan berupa kulit kerang peninggalan manusia purba zaman Mesolitikum (zaman batu pertengahan). Mereka kemungkinan nenek moyang ras melayu lama.
Gundukan tanah berupa kerang (moluska) itu adalah dari sisa makanan manusia purba yang hidup sekira 3.000 tahun sebelum Masehi (SM). Kerang tersebut merupakan sisa makanan hasil dari berburu dan mengumpulkan kerang dilakukan manusia purba yang hidup 3.000 tahun sebelum masehi.

Versi penduduk sekitar, bahwa Bukit Kerang Kawal Darat oleh penduduk sekitar disebut juga dengan nama lain situs Kota Batak atau Benteng Batak, terkadang dipanggil Benteng Lanun (Benteng Bajak Laut). Kosa kata ‘batak’ tidak ada kaitannya dengan etnis Batak di Sumatera Utara.

“Istilah “batak” terdapat pada kosa kata bahasa Melayu lama yang maknanya sama dengan istilah pembatak yang dipergunakan dalam cerita tradisonal “Makyong” di Mantang Arang dan Kampung Keke Kijang, Bintan.”

Pembantak dalam cerita teater tradisonal itu diartikan sebagai orang jahat dan menurut masyarakat itu dibangun oleh nenek moyang mereka ratusan tahun yang lalu untuk berlindung dari serangan ‘pembatak’ atau orang jahat yang selalu menjarah penduduk di pantai utara Pulau Bintan.

Situs Bukit Kerang di Kawal, Bintan merupakan bagian dari mata rantai sebaran situs Bukit Kerang di pesisir Timur Pulau Sumatera. Dari penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi (BALAR) menyimpulkan bahwa di pulau Bintan pernah hidup manusia zaman prasejarah yang mirip di Sumatera. Manusia prasejarah inilah yang menghasilkan bukit kerang karena mereka tinggal di sekitar pantai dan muara sungai pada rumah-rumah bertonggak (rumah panggung).

Manusia ini hidup berkelompok dengan mengumpulkan bahan makanan berupa kerang (moluska) dalam berbagai jenis yang mudah ditemukan di sekitar tempat tinggal mereka. Keberadaan Situs Bukit Kerang dilindungi Undang-undang Benda Cagar Budaya dan berada di bawah pengawasan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bintan. Selain dilakukan penelitian, Bukit Kerang Kawal Darat juga akan dijadikan tujuan wisata di Pulau Bintan yang dirangkai dengan wisata hutan bakau di Bintan.***(red)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *