TARIAN PERLU ADA ROH DAERAH

Natuna,( kepripos.co.id)-

Tehnik dalam menari harus mempunyai stael melayu, bukan sekedar tebar pesonase dan gebyar saja , juga musik harus banyak berciri khas daerah , kemudian tema buka hanya dibaca dalam sinopsis namun harus tergambar dalam tari yang bisa terbaca dan memiliki roh tari yang bisa dirasakan 0leh audien, hal ini disampaikan oleh dewan juri parade tari daerah Provinsi Kepulaun Riau di Pantai Kecana Ranai Natuna, 12 Juli 2018 dini hari.

Dalam kesempatan itu Gubernur Kepulauan Riau yang diawakili oleh setap ahli bidang sosial Samsuardi provinsi Kepulauan Riau menyampaikan dalam sambutannya menyampaikan ucapan terimakasih kepada sanggar yang telah bertungkus lumus dalam mempersiapkan tarian guna dipertandingkan pada parade tari daerah, tentu kesemua ini telah membantu dalam mengangkat budaya daerah di Kepulauan Riau.

Kemudian dilanjutkan dengan pemukulan kompang oleh Samsuardi mewakili Gubernur Kepri dengan didampingi oleh Bupati Natuna, Kepala dinas Pariwisata Kepri, Anggota DPRD Kepri Wan Norman Edi, Ketua DPRD Kabupaten Natuna Yusrifandi, Wakil Bupati Natuna dan kepala Dinas Pariwisata se Kepri menandakan dibukanya Parede Tari Daerah Kepulauan Riau.

Dalam kesepatan itu juga, Kadis Parawisata Provinsi Kepri DR Yatim Mustapa MP.d menyampaikan bahwa parade tari dilakukan setiap tahun secara bergiliran di Kabuten Kota se Kepri. Untuk tahun parade tari daerah Kepulauan Riau deberi tema “Berbudaya Berkarya dan Berjaya”, kemudian sebagai pemenangnya akan menjadi duta provinsi Kepri ditingkat Nasional yang akan diselenggarakan pada bulan Agustus di Taman Mini Indoensia Indah Jakarta, tentu dengan harapan masuk pada sepuluh besar, lebih meningkat dari tahun lalu yaitu hanya pada 13 besar.

Bupati Natuna Hamid Rizal dalam kesempatan yang sama pula menyampaikan bahwa Natuna telah membuka untuk pertama kali sebagai pemenang parade tari tingkat Nasional tahun 2009 dengan memperoleh tingkat ke tiga.
Bupati Natuna mengajak kepada peserta parade tari agar momentum ini bisa dijadikan ajang silaturrahmi dan bukan sekedar kompetisi belaka.

Pertujukan para penari membuat penonton merasa puasa, ini bisa didengar gemuruh tepuk tanggannya setiap penari mengakiri tariannya.
Dukung cuaca yang cerah serta sound yang baik, tentu didukung oleh MC senior Kak Ria dan bang Har membuat sinopsis bisa disimak dengan baik dengan mengawali pembacaan sinopsinya masing masing, di awali dari kontingen Penari I berjudul Bertangas, menggambarkan perlunya membersihkan diri dengan wewangian sebelum melakukan perkawinan.

Penari II berjudul Merisik merupakan proses awal sebelum perkawinan, yaitu dengan cara berbisik dari keluarga kedua mempelai sebelum acara perkawinan. Penari III berteme Sri Berkurung, sebelum perkawinan, mereka tidak boleh keluar rumah dan selalu menjaga diri guna kesiapan lahir juga batin sampai perkawinan.

Penari IV berjudul Melabuh ale, untuk menangkap buaye agar hasil tangkapan nelayan lebih baik. Untuk tari V memberi nama Berjalanlah kami, perkawinan sakral sepasang pengantin. Kemudian nomur undian VI memebri judul Hajad Sunat yang menggambar kedewasaan. Sementara undian VII memberi judul Perkawinan diatas gelomabang, sampan dihanyut dengan layar kajang menuju pelau yang di tujukan, menunjukkan suatu kemapanan dalam mengarungi samudra rumah tangga.

Sedangkan yang terakhir, nomor urut VIII bakgobih/ berambih, setelah melaku perkawinan di rumah pengantin perempuan, pengantin akan tidur dirumah pengantin laki laki.

Tanpa terasa tanggal sudah berpindah menjadi tanggal 12 juli 2018, jam menunjukkan pukul 00.30 sang juri Ir. Dra Ertis Yulia Malikam dari menejer budaya TMII, R. Alfira Finra dari ISI Jogja, Muhammad Imamsyah dan Pengamat Raja Murat mulai mebaca nilai karya tari masing masing kontingen.

Namun sebelumnya sang juru memberi masukan, agar kedepannya karya tari seniman daerah bisa lebih terkenal dengan mengangkat budaya daerah.
Tehnik dalam menari harus mempunyai stael daerah, bukan sekedar tebar pesona dan gebyar semata , juga musik harus banyak berciri khas daerah , kemudian tema bukan hanya dibaca dalam sinopsis namun harus tergambar dalam tari yang bisa terbaca dan memiliki roh tari yang bisa dirasakan oleh audien.

Dalam suasana menunggu dan penuh ketidak pastian dari akhirnya pialla bergilir berpindah dari Kabupaten Karimun ke Kota Tanjung Pinang dengan jumlah nilai 915.**

Laporan: Fadil

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *