Yayasan KKBI Kota Tanjungpinang, Laporkan Pemilik Website Pemko TPI

Tanjungpinang, (Kepripos.co.id)– Heboh konten yang diduga berisi suku, agama dan ras (SARA) yang diposting di laman resmi website Pemko Tanjung, berbuntut panjang.

Muslim Matondang.**

Pengurus Yayasan Kerukunan Keluarga Batak Islam Tanjungpinang, melaporkan website resmi Pemko Tanjungpinang, www.jdih.tanjungpinangkota.go.id., tersebut ke Polres Tanjungpunang, Jumat 19 Januari 2018.

“Saya sudah dimintai keterangan sebagai saksi pelapor di Unit Pidum, Reskrim Polres Tanjungpinang,” kata CH Pasaribu, Pembina Yayasan KKBI Tanjungpinang kepada wartawan, di Mapolres Tanjungpinang. CH Pasaribu didampingi oleh pengawas dan ketua Yayasan KKBI.

Hal senada diungkapkan Muslim Matondang, pengawas Yayasan KKBI. “Laporan ini agar ditindak lanjuti segera, agar ada kepastian hukum. Saya berharap pengelola website bertanggung jawab terhadap isi website tersebut,” tegas Muslim Matondang.

Dia menduga pemuatan konten ini ada unsur pembiaran dan kelalaian dari Dinas Infokom sebagai operator website.

Sedangkan Ketua YKBI Tanjungpinang Sulthon Nasution menghimbau kepada pihak-pihak yang dirugikan agar menyerahkan persoalan ini kepada penegak hukum. “Biarkan aparat penegak hukum bekerja secara profesional,” kata Sulthon.

Rapat setelah Laporan Pengaduan Ke Polres Tanjungpinang.**

Sementara itu, Arnedi dari warga suku Minang berencana untuk ikut melaporkan kasus yang sama. Namun, pihaknya akan terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada kelompoknya. “Malam ini direcanakan ada pertemuan dari kelompok Minang untuk membicarakan rencana untuk melaporkan masalah ini,” kata Arnedi yang didampingi Albert Sutan, sesama dari suku Minang.

Dalam laman website tersebut, suku Batak disebutkan berimigrasi ke Kepulauan Riau dengan ambisi menguasai perekonomian dan politik dengan disertai misi penyebaran agama melalui gereja HKBP.

Disebutkan pula bahwa suku Batak banyak terlibat dalam usaha ‘peminjaman uang’, tambal bal, tukang parkir, kuli pelabuhan, kuli bangunan, advokat hingga menjadi anggota DPRD.

Sedangkan suku Minang disebutkan dalam website tersebut sebagai derah yang tidak berkembang, yang membuat banyak oenduduknya tidak sejahtera dan kehilangan rasa cinta tanah air.

Suku Sunda dijelaskan sebagai suku yang wanitanya banyak bekerja di klub malam, salin dan panti pijat, dengan harapan dinikahi oleh pria-pria tua asal Singapura, yang banyak ditemukan du Kepri pada hari Sabtu dan Minggu.***

Laporan: Boby Irawadi

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *